Selasa, 13 Desember 2011

Untitled

Cast :
Hati Mutiara Cinta Sapphire (Tia)
Sardonyx Sinar Langit Malam (Rin)
Anggra Mario Rendra (Mario)
Emerald Narita Fanadya (Ema)

Chapter 1 : GAME (nooo!)
“ AAAA!!!”
Rin memejamkan matanya, menahan amarah. Sudah beberapa kali ini kakak perempuannya berteriak histeris seperti tadi. Teriakan itu seperti kucing terjepit, suara khas kakaknya. Rin membuka mata lalu memincing pada tembok yang menjadi batas antara kamarnya dengan kamar kakaknya. Tembok setebal itu bahkan tak bisa meredam suara teriakan kakaknya.
Rin tak ingin ambil pusing. Ia menghela napas mengatur agar darah di kepalanya tidak menimbulkan penyakit darah tinggi di usia yang ke 15-nya. Kemudian ia menatap layar yang sejak tadi dihiraukan Rin. Melihat Kon-pemain andalannya- terkapar, Rin mengutuki kakak berisik itu. Gara-gara dia, Rin harus mengulangi permainan itu dari awal. Sungguh membosankan.
Rin berusaha fokus kembali. Kali ini ia tak akan kalah lagi dari dengan Ram-musuhnya. Sedikit tendangan, pukulan kiri, pukulan kanan, sedikit lagi, dan sebentar lagi ia akan mendapatkan gelar baru. Dan…
“ MARIO!!!”
Rin membanting stik PS-nya. Ia sudah tak peduli lagi pada stik yang sudah retak itu. Ia lalu berderap keluar dengan amarah yang sudah mencapai taraf akhir. Bahkan bisa dilihat asap yang keluar dari puncak kepalanya. Persetan dengan darah tinggi.
Sampai di pintu kamar kakaknya, Rin langsung memutar kenop pintu itu dengan kasar dan masuk ke dalamnya. Kakaknya sendiri melotot kaget melihat adiknya masuk tanpa mengetok pintu, bukan suatu tindakan yang dapat ditiru. Ia merasa ada yang tidak beres melihat Rin. Tia bangkit dari tempat tidurnya, melepas headphone-nya dan menatap Rin yang sepertinya mengeluarkan aura hitam.
Rin menatap kakaknya emosi, tampaknya ia sedang menonton film. Terlihat dari laptop yang menyala memunculkan orang-orang di dalamnya dan ia tadi memakai headphone berwarna biru kesukaannya.
“ Lo bisa nggak sih, nggak teriak-teriak seperti tadi?” sembur Rin tanpa basa-basi.
“ Ng… lo kenapa sih, kok tiba-tiba marah?” kata Tia lirih yang rupanya agak takut melihat adiknya kalap seperti itu.
Rin mendekati Tia pelan. Tia sendiri melangkah mundur dengan sama pelannya, menjauhi Rin sebisa mungkin. Tidak ingin melakukan kontak yang sepertinya mengerikan.
“ Lo tau? Karena teriakan-teriakan lo tadi, gue jadi nggak bisa nerusin game gue. Gue keganggu suara cempreng lo.” Tia menelan ludah, ia tahu kalo Rin sudah bermain game itu hampir dua bulan. Dan Rin adalah game-mania yang artinya siapapun game-mania itu MENAKUTKAN.
“Dan lo tau, gue hampir mendapat gelar baru tadi, tapi gagal karena tokoh andalan gue mati! Itu semua disebabkan gue nggak bisa konsentrasi karena teriakan-teriakan nggak jelas lo!”
Tia menggigit bibir karena ia sampai pada akhir hidupnya. Ia sudah menempel tembok, tak bisa kemana-mana lagi. Ia memejamkan matanya sambil menunduk takut. Dalam pikiran pendeknya, Tia membayangkan bahwa besok ia akan ditemukan meninggal hanya karena kasus game. Pembunuhnya adalah adiknya sendiri. Rin. Ia tidak mau begitu. Mati sia-sia, sungguh konyol. Yah, sekonyol pikirannya.
“ Ng…gue minta maaf, deh,” ucap Tia lirih.
“ MAAF? Apa maaf bisa ngembaliin game gue? Apa maaf bisa ngembaliin stik gue yang patah?” Intonasi suara Rin melemah, membuat Tia membuka matanya dan mendongak perlahan. Rin sudah duduk di pinggir tempat tidurnya.
Rin menghela napas,” Sudahlah, forget it. Gue nggak tega ngeliat lo hampir mati kayak gitu,” ia lalu berbaring dengan kaki masih menjuntai.
Tia mendekati adiknya,” Rin, maafin gue ya? Gue…”
“ Sudahlah, gue juga minta maaf udah bentak-bentak lo,”
Tia ikutan berbaring seperti Rin. Lalu mendadak ia merasa kesepian,” Emm… Rin. Kalo nggak ada papa-mama rasanya sepi banget ya?”
Rin terdiam. Merasa Tia ada benarnya. Sudah dua bulan ini mereka ditinggal orang tuanya pergi bekerja ke luar negeri. Mereka itu, maksudnya orang tua mereka adalah workaholic.
“ Lo tadi nonton apaan sih?” tanya Rin, berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi ia segera menyesal karena melihat mata Tia yang berbnar-binar itu.
“ Gue liat Mario! Cakep loh!”
Rin mengernyit tidak mengerti. “Siapa? Tokoh Korea lagi?”
“ Bukan!” sambar Tia cepat,” Dia itu Mario Maurer, emm orang blasteran Jerman-Thailand gitu, dia maen di filem ‘A Crazy Little Thing Called Love.”
“ Oh,” kata Rin pendek, tak berminat pada Mario itu,” Hhh, gue nggak bisa maen lagi deh,” Rin mendesah berat. Menyindir Tia yang masih menerawang.
“ Oh, Mario-ku. Pacarku. Aku akan selalu menantimu. Tunggulah aku,”
 Rin langsung pingsan di tempat.

(~^-^~)

Chapter 2 : Anak baru ( siapa ya? )
“Rin, bawa motornya jangan cepat-cepat dong, rok gue udah kayak bendera nih, berkibar terus,” kata Tia di balik helmnya. Ia duduk miring di belakang motor gedhe milik Rin. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi hal-hal yang tidak perlu diketahui orang lain, termasuk preman-preman yang biasanya mangkal di dekat sekolah.
“ Ogah, gue nggak mau telat. Salah lo sendiri, tadi susah dibangunin.”
Tia hanya meringis malu mengingat kejadian tadi pagi. Sudah bangun telat, dimarahi Rin, sarapan berceceran, helm ketinggalan, PR lupa dikerjakan, and pagi yang super duper sibuk. Bibi, pembantu rumah, hanya tersenyum-senyum saat Tia dimarahi Rin. Huh!
 “ Rin, ntar gue nyontek PR lo ya?”
“ Nggak. Salah lo sendiri tadi malem cuma nonton filem doang, siapa tuh? Mario-mario itu,”
Tia mencibir. Ternyata dia masih marah.
Tia dan Rin memang beda satu tahun. Tapi, mereka berada pada angkatan yang sama., karena Rin masuk sekolahnya barengan dengan Tia. Kata orang tuanya, biar nggak ribet.
Tia sih senang-senang saja, punya adik pintar siapa yang nggak senang? Udah satu angkatan, satu kelas pula! Tapi, ada juga yang bikin bête. Rin terlalu populer. Rin terlalu cakep. Rin terlalu tampan. Dan itu semua bikin cewek-cewek kepincut sama dia.
Sayangnya, gara-gara Rin, Tia yang jadi sasaran para cewek penggemar Rin. Sebab, sampai hari ini dia nggak pernah punya pacar. Padahal banyak yang udah menyatakan cinta, terus karena tidak tahu alasan kenapa ditolak, mereka, maksudnya cewek-penggemar-Rin, langsung meneror kakaknya yang hanya bisa angkat bahu alias sama tidak tahunya.
“ Woi, lo melamun ya? Cepet turun, udah sampe sekolah nih,”
Tia berjengit kaget,” Aduh, gue kaget tau!” Tia memukul pelan kepala Rin lalu turun dari motornya sambil melepas helm.
“ Untung nggak telat, kalo sampe telat gue nggak akan nganter lo pulang,” ancam Rin yang tentu saja nggak akan terjadi.
“ Alhamdulillah,” Tia mengelus dadanya lega. Dia bisa mengerjakan PRnya sekarang. Biasa, pelajaran jam pertama itu menguras otak. Apalagi itu PR. Dan PR itu pelajaran Fisika. Dan karena volume otaknya beda dengan volume otaknya Rin, maka dia harus menyontek. Hehe…
Tapi, niat itu segera diurungkan Tia. Ada keramaian yang tidak biasanya. Banyak anak yang berdesak-desakan di sana, memusat lebih tepatnya. Entah untuk apa. Kalo sekadar bagi-bagi beras rasanya tidak mungkin. Kalo bagi-bagi THR? Mm…apa iya?
“ Rin, ada yang bagi-bagi THR ya?” tanya Tia sambil menyejajari langkah besar Rin.
“ Hah? Maksud lo?”
Tia menunjuk dengan dagunya. Rin melihat arah yang ditunjuk Rin. Dia juga sama herannya, mengapa ada keramaian di lapangan sepak bola?
“ Entahlah, gue nggak peduli,” Rin mengangkat bahu.
Tia mencibir. Dia emang cuek, tapi apa nggak penasaran ama yang di sana?
“ Ng…gue ke sana deh, siapa tahu ada THR gratis,” kata Tia berjalan menuju keramaian. Rin ingin melarangnya karena harus mengerjakan PR. Tapi, tidak jadi. Biar sajalah, itung-itung lihat pemandangan di depan kelas nanti. Rin tertawa pelan membayangkannya.
“ OI! Ada apaan nih? Rame bener!” ucap Tia pada salah satu teman sekelasnya, Ajeng, yang ternyata ada di situ juga.
“ Aaah! Lo bakalan kaget ngeliat anak baru itu.”
“Anak baru? Siapa?”
“Pokoknya dia keren banget. Dan gue mungkin udah jatuh cinta pada pandangan yang pertama,” jelas Ajeng hingga histeris.
Tia jadi ingin muntah. Apa benar? Jatuh cinta pada pandangan pertama? Dia jadi penasaran bagaimana rupa wajah orang itu sehingga bisa menarik perhatian para gadis di sekolah ini.
Tia ikut berdesakan. Untung tubuhnya kecil, kalo tidak pasti dia tidak akan sampai di barisan depan. Tepat di tengahnya, berdiri orang yang tinggi, yang sepertinya dialah pusat semua perhatian itu. Dia seprtinya merasa risih dengan keadaan di sekitarnya. Tia mengamatinya, dan begitu melihat wajah orang itu yang ternyata cowok, Tia langsung membelalakkan matanya.
MARIO MAURER !!!
Dia Mario! Mario Maurer! Astaga!
“ Namanya Anggra Mario Rendra.” Kata salah satu cewek di samping Tia. Tia sendiri mengernyit heran,” Panggilannya Mario,”
Hah? Tunggu-tunggu! Bukankah dia Mario Maurer? Kenapa bisa jadi Anggra Mario Rendra? Aneh sekali!
Tia mengamati sekali lagi dengan teliti cowok yang di sebut Mario itu. Kalo dilihat sekilas ia memang seperti Mario Maurer, namun setelah diamati benar-benar, dia bukan Mario Maurer melainkan kloningannya Mario. Ya ampun! Bahkan nama panggilannya pun persis.
“ Ada apa ini? Cepat masuk kelas, ini udah bel!” teriak salah satu guru yang berada di belakang kerumunan. Bu Rani, guru BP. Semuanya langsung cepat-cepat membubarkan diri, termasuk Tia, takut dengan salah satu guru killer itu.
Tia berhenti berlari, ia menepuk dahinya,” Mati gue! PR Fisikanya?!”
Tia masuk kelasnya, XI IPA 1, lalu mencari meja Rin. Di sana Rin sedang tertawa-tawa dengan Gio, teman sebangkunya. Tia dengan tatapan terbengisnya menatap Rin yang terbengong melihatnya.
“ Kenapa lo?” tanyanya.
“ Kok lo nggak peringati gue sih?!” teriak Tia membuat semua anak di kelasnya melihat mereka.
“ Peringati tentang apa?”
“ PR fisika!” ujar Tia keras, agak dongkol.
“ Salah lo sendiri,” kata Rin cuek. Lalu berbalik dan melanjutkan candaanya dengan Gio yang menatap Tia kasihan.
Tia mengumpat keras,“ Huh! Dasar! Liat aja lo ntar, sampe rumah gue bun…”
“ TIA! Ngapain kamu di situ?!” ucapan Tia terpotong oleh teriakan seorang guru di belakang yang Tia tau siapa beliau. Tia berbalik, dan menemukan wajah Bu Runi yang menggeram.
Tia langsung pasang tampang senyum manis,” Nggak ngapa-ngapain, Bu,”
“ Cepat duduk!” Bu Runi tampak tak terpengaruh dengan senyum itu. Tia menghela napas pelan, setidaknya dia tidak dimarahi.
 Oh, tunggu dulu!
“ Mati gue! PRnya?” umpat Tia pada diri sendiri. Ia lalu menatap Bu Runi yang sekarang sudah memerintahkan anak-anak untuk mengumpulkan PR. Tia tahu, setelah ini ia tidak akan bisa bernapas lagi.

(~^-^~)
Chapter 3 : Setelah hukuman=tidur (nyeyak!)
“ Uh, uh. Badan gue remuk semua,” keluh Tia. Dia menyandarkan kepalanya di atas meja. Ema-sahabat sekaligus teman sebangkunya-melihat Tia kasihan.
Sejak bel pertama sampai istirahat ini, Tia disuruh berdiri di depan kelas. Tidak hanya berdiri saja, ia juga mengangkat satu kakinya dan memegang telinga dengan kedua tangannya. Ada juga yang ketawa-ketiwi melihat tingkah Tia. 
“ Lo juga sih, kenapa bisa dua pelajaran nggak lo kerjain semua PRnya?” Ema geleng-geleng kepala.
Tia cemberut,” Kok lo gitu sih? Nggak kasihan sama temen lo ini?”
“ Nggak,” jawab Ema pendek.
“ Jahat bener lo jadi temen. Jadi kayak Rin, deh.” Tia bangkit dan berjalan keluar.
“ Mau ke mana lo?” tanya Ema keras. Tapi, Tia tidak menyahut. Ema berpikir pasti Tia marah padanya. Ia tidak seharusnya bicara kejam seperti itu. Ia harus segera meminta maaf,” Tia! Tunggu gue,” Ema berlari keluar kelas, tapi tidak menemukan Tia dan ia sudah melototkan matanya untuk mencari gadis berambut lurus yang diikat ekor kuda. Nihil. Padahal setahunya, Tia tidak akan berjalan secepat itu. Ema jadi merinding sendiri memikirkannya.
Tia menggembungkan pipinya, kebiasaan di saat sedang nggak semangat. Badannya masih terasa nyeri. Berdiri selama dua setengah jam membuat kaki Tia sakit. Ditambah ejekan-ejekan yang keluar dari mulut teman-temannya.
Tia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia hanya menuruti kakinya melangkah. Tia sampai di belakang sekolah. Lalu menemukan sebuah bangku biru yang panjang. Ia ingin istirahat di sana sebentar. Tia menyandarkan kepalanya di bangku itu. lalu memejamkan matanya. Menghirup angin yang berhembus pelan. Bau bunga di sekitarnya seakan merontokkan kelelahan Tia. Tidak terasa Tia tertidur di situ.
Tia tidak tahu ada seseorang berdiri di sampingnya. Orang itu melambaikan tangannya di depan wajah Tia. Melihat tidak ada respon, orang itu tersenyum geli,” Dasar! Tidur waktu pelajaran udah dimulai.” Orang itu duduk di samping Tia. Melihat wajah tidurnya, orang itu tersenyum lagi,” Siapa nama lo? Boleh gue panggil putri tidur?” ia tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya seolah ia gila.
Tia membuka matanya yang terasa berat. Kemudian menguap dan meregangkan badannya. Ia mengucek matanya yang agak kabur. Lalu kaget mendapati ia tidur di bangku panjang ini.
“ Astaga! Jam berapa ini?! AAAAA…Tuhan! Kenapa kau membiarkanku tidur di sini?!” Tia langsung berlari cepat menjauhi taman belakang sekolah. Ia terus-terusan mengumpat sepanjang perjalanan ke kelasnya.
Di luar kelasnya, Tia mengetuk pintu sambil berusaha tak terlihat habis berlari. Dan tanpa komando, semua anak termasuk salah satu guru, namanya Bu Via-guru sejarah, melirik ke arah Tia yang segera merasa bersalah. Ia akan menerima segala  hukuman dari Bu Via.
Bu Via bingung mendapati Tia berdiri di luar kelas,” Tia, kenapa ke sini? Memangnya kamu udah sembuh?” tanyanya lembut sambil mendekati Tia.
 Ini nih yang harusnya dijadiin guru! Guru yang baik! Eh? Tapi, apa maksud Bu Via tadi? Batin Tia.
“ Emm…maksudnya apa tadi, Bu?” tanya Tia lambat-lambat.
“ Bukankah kamu sakit? Kata Ema tadi, kamu sakit jadi nggak bisa ngikutin pelajaran ibu,” jelas Bu Via.
OOOHH!
“ Eh, iya, Bu,” Tia melirik Ema sekilas,” Tadi saya memang sakit, tapi sekarang kayaknya udah lebih mendingan, kok.” Bohong Tia. Maaf, bu, batinnya.
Bu Via mengangguk mengerti,” Baiklah kalo begitu. Kamu boleh mengikuti pelajaran ibu, namun jika merasa sakit kamu harus kembali ke UKS, ya?”
Tia mengangguk. Setelah diijinkan untuk duduk, Tia mengucapkan banyak terima kasih pada Ema yang telah menolongnya, yang disambut anggukan kecil,” Sama-sama. Gue jadi bo’ong deh sama Bu Via. Emang tadi lo kemana sih?” bisik Ema.
“ Taman belakang, tadi gue ketiduran,” balas Tia yang juga berbisik.
Ema menatap Tia tak percaya,” Serius lo? Kok bisa ya?”
“ Kelelahan kali.”
Ema mengangguk maklum. Biasanya setelah Tia kelelahan dia emang bisa tidur nyenyak entah di manapun tempat itu berada. Di kelas pernah, sampe di marahi guru-guru yang saat itu mengajar, di bus juga pernah dan hampir kecopetan kalo nggak ada orang yang menolongnya, dan masih banyak tempat yang lain yang bisa dijadiin bukti.
Yah, begitulah sifat Tia. Hati Mutiara Cinta Sapphire.

Senin, 12 September 2011

Awanku atau Matahariku

Ketika aku berbaring menatap langit kutemukan wajahnya terukir di awan yang berarak. Ketika kututup mataku dengan kedua tanganku sambil menahan senyum, langit mendung menyergapnya. Menyembunyikan dirinya dibalik awan hitam, awan hitam itu tersenyum dan berkata,” sama sekali tak pantas kau tersenyum dengannya,” lalu hujan datang menimpaku, seakan tak peduli denganku yang tiba-tiba menangis. Aku berlari dan terus berlari. Aku benar-benar takut, aku berlari tak tahu arah. Awan hitam itu mengikutiku. Kemana aku harus pergi?
Lalu, aku sampai dibalik sebuah bukit. Di sanalah awanku berada tapi awan hitam itu  terus mengikutiku. Seketika itu munculah sang penyinar dunia, pusat tata surya, sang matahari. Dia memberikan sinarnya untukku, sehingga awan hitam itu pergi.
Aku tersenyum berterima kasih. Melihat itu sang matahari balas tersenyum padaku. Entah apa yang membuatku bahagia saat itu. Awanku atau matahariku. 

Selasa, 26 Juli 2011

My School and My Love has Just Begun Last Chap.

Bagian 5

Sekarang, aku ngeliat dia sebelah mata. Hanya sebagai kakak kelas saja, nggak lebih…

Rasa itu pudar sudah … lagian dia pernah ngomong berduaan sama anak perempuan itu di depan mataku. Aku ‘kan sebel (cemburulah). Yap, aku sebel. Banget!. Aku ngelewati mereka dengan cueknya, namun tahu-tahu ada seseorang manggil aku, ia duduk persis di depan mas D dan anak itu. Sepertinya, (J) ingin menyampaikan pesan padaku.  Aku benar-benar sebel,  karena aku harus ngomong di depan mereka (mas D and anak itu).
“ (N) belum pulang ya?” tanyaku.
“ Katanya kamu disuruh nunggu,”
“ Iya, sih. Tak tunggu di depan aja deh.” Kataku dengan nada cuek,” Terimakasih,”
Aku ngerasa dia ngeliatku bicara sama (J) itu. Huh, biar aja deh.

Nah, sifatku itu berlangsung sampe sekarang…

Tiap ketemu dia aku pasti pura-pura nggak kenal. Pernah, berkali-kali malah, saat kami bertemu, aku sama dia tatapan mata. Dan, sifatku yg cuek itu muncul lagi. Aku menatap matanya kosong. Dan, sialnya lagi…saat mataku bertemu dengannya ada sengatan listrik yang aku rasakan.



Sampai sekarang aku masih tidak tahu harus apa…
Aku ingin menjadi orang terkasihnya, tapi ada sesuatu yang menghalanginya…
Rasanya aku ingin berteriak sesuka hatiku…
Melepas segala sakit hati yang kurasakan…
Dengan begitu aku akan lega…
Dan juga…
Aku ingin minta maaf ketika aku bertemu dengannya…
Aku hanya bisa menatap matanya kosong…
Aku menjalani hidupku sebagaimana air mengalir…
Penuh dengan rintangan…
Penuh dengan luka…
Tapi (semoga) pada akhirnya, air itu akan menemukan tujuannya … laut …
Begitu juga dengan hidupku…
Tak pernah kubayangkan bagaimana hidupku kelak…
Tanpa cinta…
Tanpa orang yang terkasih…

My School and My Love has Just Begun 4

Bagian 4

Klo ngebayangin yg manis-manis itu mesti enak rasanya. Tapi, kenyataannya menyakitkan…

Aku, di kelasku dianggap anak yang masih polos. Senang sih, walaupun begini-begini berarti aku masih dianggap. Banyak yg menerimaku apa adanya. Nggak seperti waktu smp, huh…apaan tuh? *bercanda*

Latian tonti nih…
Aku berharap bertemu dia walaupun Cuma sekali. Dan, aku senang sekali kalo ada dia yg ikut ngajar adik kelasnya baris-berbaris. Pernah sekali dua kali dia ngajar aku, karena kebanyakan ngajarnya di anak cowok. Saat itu aku menganggap klo dia juga suka aku (dlm arti kakak adik).

Yap, kalian tahu? Aku belum tahu namanya sama sekali saat itu… tapi, saat searching di internet (FB), tahu-tahu aku ngeliat fb-nya. Senang sekali karena di situ juga terpampang namanya. Satu langkah lebih dekat nih…

Beberapa hari sudah berlalu, di hatiku semakin berbunga-bunga ketika liat dia. Entah kenapa? Aku saja bingung. Dan aku meyakinkan diriku klo ini hanya cinta sesaat. Dan benar saja…

Aku diajak sholat sama temenku, yaa…tak sengaja juga sih aku tobat waktu itu *hehe*. Habis sholat, saat aku memakai sepatu, ada kakak kelas yg mengejek salah seorang anak tonti juga. Anaknya manis, setahun lebih muda dibandingin aku.

“ Cie…masD-nya mana? Kok nggak bareng?”
Aku kaget. MasD? Jangan-jangan dia? Batinku.
“ Nggak tahu, ah!” jawab anak perempuan itu dengan malu-malu.

Benar saja sepertinya ada hubungan antara mas D dan anak ini … aku akan menyelidiki lebih jauh …

Pulang tonti, secara nggak sengaja aku ngeliat mas D sama anak perempuan tadi lagi boncengan. Sepertinya, dia lagi nganterin anak itu pulang.

Aku menunduk lesu…ternyata hanya begini saja? Aku yg dulunya sering ngeliat dia dan akhirnya jadi suka, aku yang berusaha mati-matian agar ngelupain cowok dan seenaknya saja dia masuk pikiranku, aku yg berusaha nyari namanya, aku yg berusaha ngebayangin dia jadi suamiku kelak, hanya begini akhirnya???

Aku rasanya ingin berteriak keras! Aku benci cowok!

My School and My Love has Just Begun 3

Bagian 3

Hari-hari di sekolah nggak ada yang istimewa. Kegiatannya Cuma itu-itu doang! Aku saja masih dongkol gara-gara guru di sekolah ini jarang yang ngajarnya niat. Kalaupun ada yang niat, itumah kelewatan banget. Oke, dari dulu aku inigin mengelompokkan guru yang niat dan yang enggak.

Yang niat nih, Bu ****** ( nah, klo semua guru kayak beliau pasti deh sekolah ini bakalan bagus), Bu ***** ( klo dia emang niat, tapi . . . keterlaluan sm anak cewek. Huh!), guru ***.   

Yang niat nggak n**t, Bu b. Indo, pak geografi, pak b. jepang, pak seni musik ( beliau sering banget ngelucu, 50:50, pelajaran ama guyonannya), bu b, jawa, pak sosiologi.

Yang nggak niat nih, Bu ****** ( ngajar pake b, inggris yg pas-pasan), pak guru OR (cuek abizzz! Tapi enak nih guru!), Pak ***** (kebanyakan ngomong dan aku kebanyakan nggak mudengnya), Bu Ekonomi ( Haaah . . . klo ama beliau harus pasrah, dan harus dikasiani. Soalnya beliau klo ngomong lirih jadi banyak yg nggak ngedengerin), Pak ******** ( dia sih kadang jengkelin. Guru ngajar kok mbaca terus… guru apaan tuh? Klo Cuma mbaca doang, aku mah bisa!), bu ***** ( guru b,ingg…kadang nggak perhatian ama anak klas X1. Dia ‘kan wali klas X1, tapi sm sekali tidak peduli!), Guru Sejarah… klo tak perhatiin sifatnya beliau hampir mirip sm pak ********), bu agama (Ngejengkelin!).

Nah, perbandingannya lakyo banyak banget toh?

Pulang-pulang nih… karena kelasku ada di pojokan atas, aku sering banget liat ke bawah siapa tahu dia nongol. Hehe…skalian cuci mata. Dan gara-gara suka liat wajahnya, entah kenapa aku sering banget ngalami kayak serangan listrik klo liat dia.

Padahal, aku banyak nangis gara-gara cowok. Aku dulu benci banget sm yg namanya cowok. Aku berusaha mati-matian buat nggak ngeliat cowok. Tapi, aku sial banget ya? Cowok satu itu… kurang ajar banget. Aku yg sedang usaha, eh, malah dia masuk kedalam pikiranku dengan mudahnya. Sial!

Tapi, saat aku liat dia…(nggak sengaja), dia sama temen-temennya masuk masjid dan aku baru sadar klo dia anak sholeh. Aku senang sekali, aku senyum-senym sendiri. Saat itu aku ngebayangin klo aku ntar nikah sm dia, pasti dia mau ngebimbingku. Dan, aku akan menjadi istri yang baik…

Namun, ada sesuatu yang tidak kuketahui saat itu…

My School and My Love has Just Begun 2

Bagian 2

Latian terus…
Latian terus…
Latian teruuuuus…
(Heran nih, kapan sih latian baris ini berakhir?)
Selang sekitar satu bulan, akhirnya kami akan menjalani pelantikan. Yah, berat bangeeeet diawalnya. Tapi bukan berarti akhirnya hepi ending. Bagian akhir dari prosesi pelantikan adalah….

Jeng-jeng!!!

Terkurung dalam penjara udara!

Yang diatas sebenernya dapat diartikan : kami semua yang sudah berpakaian ala paskib disuruh masuk ke dalam ruangan atau (dulunya) aula atas. Dan, semua ventilasi ditutup memakai koran. Akibatnya, kami saling berebut udara di dalamnya. Belum lagi di ruangan tersebut remang-remang hanya di sinari cahaya lilin yang ditata dan bau bunga-bunga juga kemenyan (mungkin). Beeer… di dalam, tak ada suara. Mungkin hanya bisikan-bisikan kecil. Lama sekali aku menunggu kapan ini semua berakhir, karena aku sudah berkeringat dan pegal karena berdiri terus.

Prosesi pelantikan pun usai. Pintu yang tadinya juga ditutup, sekarang dibuka lebar-lebar. Kakak kelas 2 dan juga alumni yang tadi berada di luar (Huft, aku juga pengen di luar. Habis udah basah nih baju kena keringat) malah ikutan masuk dan alhasil penuhlah aula itu.

Nanging, neng kono ono kejadian yang tak terduga…

“ Dhek! selamat ya!”

Aku menoleh ke sumber suara yang ada di belakangku. Tahu-tahu ada tangan terjulur ke arahku. Aku menyambutnya hanya dengan senyuman ‘dipaksakkan’.

“Makasih,”

Dan, kalian tahu siapa orangnya? Yap, tepat! Exactly, great, congrulations, pokokke mak nyus! ( lho? ) Si-Masnya! Bujet dah, dapet rejeki ape nih gue?


Senin, 25 Juli 2011

My School and My Love has Just Begun 1

Bagian 1

Aku sekarang sekolah di SMA N ******. Sebenarnya aku ingin sekolah di S******, tapi tidak diijinkan oleh Babeku (Ayah). Ya sudahlah, jalani saja dulu, batinku.

Kalo dipersingkat, saat ini sudah memasuki Masa Orientasi Siswa (MOS). MOS, menurutku aneh jika tidak ‘dianeh-anehin’. Betul sekali, kami, semua murid baru di sekolah ini disuruh membawa perlengkapan yang menyusahkan untuk mendapatkannya. Contohnya nih, di hari terakhir kami disuruh untuk membawa bunga mawar dan pita-pita. Sumpah, buat cari bunga mawarnya aja aku bingung kemana. Untungnya ada ortu yang siap membantu. Dan, alhasil mereka mendapatkan bunga mawar itu. Tau di mana? Di Jogja! Aku sampe nggak rela hati.

Setelah MOS berakhir ternyata nggak bisa bernapas lega setelah itu. tiga hari selanjutnya, kami mengikuti SECAPA (Seleksi Calon Paskibraka), ya seperti baris-berbaris itulah. Ternyata, kalo dibayangin Mos itu lebih mendingan daripada secapa. Aturannya beuh, mengerikan. Kami seperti dikurung dalam penjara. Dan kegiatan itu tidak hanya membuatku capek, lelah, emosi, panas, tapi juga membuatku kehilangan suaraku. Haha . . . emang lucu sih tapi itu membuatku frustasi apalagi karena setelah itu aku akan diwawancarai. Sebelumnya aku terpilih untuk ikut tes seleksi. Tes pertama yaitu wawancara.

Aku benar-benar bingung. Kalo suaraku tidak keluar, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan nanti ? Kemudian, secara tidak sengaja, aku bertanya pada seorang cowok. Entah namanya siapa aku tidak peduli.
Dengan suara angin aku ngomong,” Mas…aku nggak bisa ngomong. Trus ntar wawancaranya gimana?” dan, si-Masnya itu menjawab dengan cuek,” Masuk aja dulu,” aku langsung membatin, kurang ajar emangnya aku ini apa? Dicuekin kayak gitu!

Sebelum masuk ruangan itu, aku berdo’a. Ya Allah tolonglah hambamu ini . . .

Tes itu tak berlangsung lama, karena Alumni (pewawancara) itu kasian padaku. Heheh , , , ternyata ada gunanya juga nggak bersuara.

Saat kami (anak* tonti) menjalani latihan demi latihan yang membuat otak kram, eh salah, maksutnya tubuhnya yang kram, aku tak sengaja melirik bagian kakak kelas 2 berkumpul. Mataku seperti diperintah untuk melihat dia. Aku baru menyadari kalo dia adalah kakak kelasku waktu smp (kalo nggak salah). Aku bahkan berpikir kalo dia adalah adik sepupuku. Tapi, sepertinya bukan. Heheh…mirip sih. Yah, mungkin itulah awal mulanya bagaimana aku tertarik pada co’ waktu SMA.