Ketika aku berbaring menatap langit kutemukan wajahnya terukir di awan yang berarak. Ketika kututup mataku dengan kedua tanganku sambil menahan senyum, langit mendung menyergapnya. Menyembunyikan dirinya dibalik awan hitam, awan hitam itu tersenyum dan berkata,” sama sekali tak pantas kau tersenyum dengannya,” lalu hujan datang menimpaku, seakan tak peduli denganku yang tiba-tiba menangis. Aku berlari dan terus berlari. Aku benar-benar takut, aku berlari tak tahu arah. Awan hitam itu mengikutiku. Kemana aku harus pergi?
Lalu, aku sampai dibalik sebuah bukit. Di sanalah awanku berada tapi awan hitam itu terus mengikutiku. Seketika itu munculah sang penyinar dunia, pusat tata surya, sang matahari. Dia memberikan sinarnya untukku, sehingga awan hitam itu pergi.
Aku tersenyum berterima kasih. Melihat itu sang matahari balas tersenyum padaku. Entah apa yang membuatku bahagia saat itu. Awanku atau matahariku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar