Bagian 1
Aku sekarang sekolah di SMA N ******. Sebenarnya aku ingin sekolah di S******, tapi tidak diijinkan oleh Babeku (Ayah). Ya sudahlah, jalani saja dulu, batinku.
Kalo dipersingkat, saat ini sudah memasuki Masa Orientasi Siswa (MOS). MOS, menurutku aneh jika tidak ‘dianeh-anehin’. Betul sekali, kami, semua murid baru di sekolah ini disuruh membawa perlengkapan yang menyusahkan untuk mendapatkannya. Contohnya nih, di hari terakhir kami disuruh untuk membawa bunga mawar dan pita-pita. Sumpah, buat cari bunga mawarnya aja aku bingung kemana. Untungnya ada ortu yang siap membantu. Dan, alhasil mereka mendapatkan bunga mawar itu. Tau di mana? Di Jogja! Aku sampe nggak rela hati.
Setelah MOS berakhir ternyata nggak bisa bernapas lega setelah itu. tiga hari selanjutnya, kami mengikuti SECAPA (Seleksi Calon Paskibraka), ya seperti baris-berbaris itulah. Ternyata, kalo dibayangin Mos itu lebih mendingan daripada secapa. Aturannya beuh, mengerikan. Kami seperti dikurung dalam penjara. Dan kegiatan itu tidak hanya membuatku capek, lelah, emosi, panas, tapi juga membuatku kehilangan suaraku. Haha . . . emang lucu sih tapi itu membuatku frustasi apalagi karena setelah itu aku akan diwawancarai. Sebelumnya aku terpilih untuk ikut tes seleksi. Tes pertama yaitu wawancara.
Aku benar-benar bingung. Kalo suaraku tidak keluar, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan nanti ? Kemudian, secara tidak sengaja, aku bertanya pada seorang cowok. Entah namanya siapa aku tidak peduli.
Dengan suara angin aku ngomong,” Mas…aku nggak bisa ngomong. Trus ntar wawancaranya gimana?” dan, si-Masnya itu menjawab dengan cuek,” Masuk aja dulu,” aku langsung membatin, kurang ajar emangnya aku ini apa? Dicuekin kayak gitu!
Sebelum masuk ruangan itu, aku berdo’a. Ya Allah tolonglah hambamu ini . . .
Tes itu tak berlangsung lama, karena Alumni (pewawancara) itu kasian padaku. Heheh , , , ternyata ada gunanya juga nggak bersuara.
Saat kami (anak* tonti) menjalani latihan demi latihan yang membuat otak kram, eh salah, maksutnya tubuhnya yang kram, aku tak sengaja melirik bagian kakak kelas 2 berkumpul. Mataku seperti diperintah untuk melihat dia. Aku baru menyadari kalo dia adalah kakak kelasku waktu smp (kalo nggak salah). Aku bahkan berpikir kalo dia adalah adik sepupuku. Tapi, sepertinya bukan. Heheh…mirip sih. Yah, mungkin itulah awal mulanya bagaimana aku tertarik pada co’ waktu SMA.
Karya yang aneh...
BalasHapus