Bagian 5
Sekarang, aku ngeliat dia sebelah mata. Hanya sebagai kakak kelas saja, nggak lebih…
Rasa itu pudar sudah … lagian dia pernah ngomong berduaan sama anak perempuan itu di depan mataku. Aku ‘kan sebel (cemburulah). Yap, aku sebel. Banget!. Aku ngelewati mereka dengan cueknya, namun tahu-tahu ada seseorang manggil aku, ia duduk persis di depan mas D dan anak itu. Sepertinya, (J) ingin menyampaikan pesan padaku. Aku benar-benar sebel, karena aku harus ngomong di depan mereka (mas D and anak itu).
“ (N) belum pulang ya?” tanyaku.
“ Katanya kamu disuruh nunggu,”
“ Iya, sih. Tak tunggu di depan aja deh.” Kataku dengan nada cuek,” Terimakasih,”
Aku ngerasa dia ngeliatku bicara sama (J) itu. Huh, biar aja deh.
Nah, sifatku itu berlangsung sampe sekarang…
Tiap ketemu dia aku pasti pura-pura nggak kenal. Pernah, berkali-kali malah, saat kami bertemu, aku sama dia tatapan mata. Dan, sifatku yg cuek itu muncul lagi. Aku menatap matanya kosong. Dan, sialnya lagi…saat mataku bertemu dengannya ada sengatan listrik yang aku rasakan.
Sampai sekarang aku masih tidak tahu harus apa…
Aku ingin menjadi orang terkasihnya, tapi ada sesuatu yang menghalanginya…
Rasanya aku ingin berteriak sesuka hatiku…
Melepas segala sakit hati yang kurasakan…
Dengan begitu aku akan lega…
Dan juga…
Aku ingin minta maaf ketika aku bertemu dengannya…
Aku hanya bisa menatap matanya kosong…
Aku menjalani hidupku sebagaimana air mengalir…
Penuh dengan rintangan…
Penuh dengan luka…
Tapi (semoga) pada akhirnya, air itu akan menemukan tujuannya … laut …
Begitu juga dengan hidupku…
Tak pernah kubayangkan bagaimana hidupku kelak…
Tanpa cinta…
Tanpa orang yang terkasih…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar