Cast :
Hati Mutiara Cinta Sapphire (Tia)
Sardonyx Sinar Langit Malam (Rin)
Anggra Mario Rendra (Mario)
Emerald Narita Fanadya (Ema)
Chapter 1 : GAME (nooo!)
“ AAAA!!!”
Rin memejamkan matanya, menahan amarah. Sudah beberapa kali ini kakak perempuannya berteriak histeris seperti tadi. Teriakan itu seperti kucing terjepit, suara khas kakaknya. Rin membuka mata lalu memincing pada tembok yang menjadi batas antara kamarnya dengan kamar kakaknya. Tembok setebal itu bahkan tak bisa meredam suara teriakan kakaknya.
Rin tak ingin ambil pusing. Ia menghela napas mengatur agar darah di kepalanya tidak menimbulkan penyakit darah tinggi di usia yang ke 15-nya. Kemudian ia menatap layar yang sejak tadi dihiraukan Rin. Melihat Kon-pemain andalannya- terkapar, Rin mengutuki kakak berisik itu. Gara-gara dia, Rin harus mengulangi permainan itu dari awal. Sungguh membosankan.
Rin berusaha fokus kembali. Kali ini ia tak akan kalah lagi dari dengan Ram-musuhnya. Sedikit tendangan, pukulan kiri, pukulan kanan, sedikit lagi, dan sebentar lagi ia akan mendapatkan gelar baru. Dan…
“ MARIO!!!”
Rin membanting stik PS-nya. Ia sudah tak peduli lagi pada stik yang sudah retak itu. Ia lalu berderap keluar dengan amarah yang sudah mencapai taraf akhir. Bahkan bisa dilihat asap yang keluar dari puncak kepalanya. Persetan dengan darah tinggi.
Sampai di pintu kamar kakaknya, Rin langsung memutar kenop pintu itu dengan kasar dan masuk ke dalamnya. Kakaknya sendiri melotot kaget melihat adiknya masuk tanpa mengetok pintu, bukan suatu tindakan yang dapat ditiru. Ia merasa ada yang tidak beres melihat Rin. Tia bangkit dari tempat tidurnya, melepas headphone-nya dan menatap Rin yang sepertinya mengeluarkan aura hitam.
Rin menatap kakaknya emosi, tampaknya ia sedang menonton film. Terlihat dari laptop yang menyala memunculkan orang-orang di dalamnya dan ia tadi memakai headphone berwarna biru kesukaannya.
“ Lo bisa nggak sih, nggak teriak-teriak seperti tadi?” sembur Rin tanpa basa-basi.
“ Ng… lo kenapa sih, kok tiba-tiba marah?” kata Tia lirih yang rupanya agak takut melihat adiknya kalap seperti itu.
Rin mendekati Tia pelan. Tia sendiri melangkah mundur dengan sama pelannya, menjauhi Rin sebisa mungkin. Tidak ingin melakukan kontak yang sepertinya mengerikan.
“ Lo tau? Karena teriakan-teriakan lo tadi, gue jadi nggak bisa nerusin game gue. Gue keganggu suara cempreng lo.” Tia menelan ludah, ia tahu kalo Rin sudah bermain game itu hampir dua bulan. Dan Rin adalah game-mania yang artinya siapapun game-mania itu MENAKUTKAN.
“Dan lo tau, gue hampir mendapat gelar baru tadi, tapi gagal karena tokoh andalan gue mati! Itu semua disebabkan gue nggak bisa konsentrasi karena teriakan-teriakan nggak jelas lo!”
Tia menggigit bibir karena ia sampai pada akhir hidupnya. Ia sudah menempel tembok, tak bisa kemana-mana lagi. Ia memejamkan matanya sambil menunduk takut. Dalam pikiran pendeknya, Tia membayangkan bahwa besok ia akan ditemukan meninggal hanya karena kasus game. Pembunuhnya adalah adiknya sendiri. Rin. Ia tidak mau begitu. Mati sia-sia, sungguh konyol. Yah, sekonyol pikirannya.
“ Ng…gue minta maaf, deh,” ucap Tia lirih.
“ MAAF? Apa maaf bisa ngembaliin game gue? Apa maaf bisa ngembaliin stik gue yang patah?” Intonasi suara Rin melemah, membuat Tia membuka matanya dan mendongak perlahan. Rin sudah duduk di pinggir tempat tidurnya.
Rin menghela napas,” Sudahlah, forget it. Gue nggak tega ngeliat lo hampir mati kayak gitu,” ia lalu berbaring dengan kaki masih menjuntai.
Tia mendekati adiknya,” Rin, maafin gue ya? Gue…”
“ Sudahlah, gue juga minta maaf udah bentak-bentak lo,”
Tia ikutan berbaring seperti Rin. Lalu mendadak ia merasa kesepian,” Emm… Rin. Kalo nggak ada papa-mama rasanya sepi banget ya?”
Rin terdiam. Merasa Tia ada benarnya. Sudah dua bulan ini mereka ditinggal orang tuanya pergi bekerja ke luar negeri. Mereka itu, maksudnya orang tua mereka adalah workaholic.
“ Lo tadi nonton apaan sih?” tanya Rin, berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi ia segera menyesal karena melihat mata Tia yang berbnar-binar itu.
“ Gue liat Mario! Cakep loh!”
Rin mengernyit tidak mengerti. “Siapa? Tokoh Korea lagi?”
“ Bukan!” sambar Tia cepat,” Dia itu Mario Maurer, emm orang blasteran Jerman-Thailand gitu, dia maen di filem ‘A Crazy Little Thing Called Love.”
“ Oh,” kata Rin pendek, tak berminat pada Mario itu,” Hhh, gue nggak bisa maen lagi deh,” Rin mendesah berat. Menyindir Tia yang masih menerawang.
“ Oh, Mario-ku. Pacarku. Aku akan selalu menantimu. Tunggulah aku,”
Rin langsung pingsan di tempat.
(~^-^~)
Chapter 2 : Anak baru ( siapa ya? )
“Rin, bawa motornya jangan cepat-cepat dong, rok gue udah kayak bendera nih, berkibar terus,” kata Tia di balik helmnya. Ia duduk miring di belakang motor gedhe milik Rin. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi hal-hal yang tidak perlu diketahui orang lain, termasuk preman-preman yang biasanya mangkal di dekat sekolah.
“ Ogah, gue nggak mau telat. Salah lo sendiri, tadi susah dibangunin.”
Tia hanya meringis malu mengingat kejadian tadi pagi. Sudah bangun telat, dimarahi Rin, sarapan berceceran, helm ketinggalan, PR lupa dikerjakan, and pagi yang super duper sibuk. Bibi, pembantu rumah, hanya tersenyum-senyum saat Tia dimarahi Rin. Huh!
“ Rin, ntar gue nyontek PR lo ya?”
“ Nggak. Salah lo sendiri tadi malem cuma nonton filem doang, siapa tuh? Mario-mario itu,”
Tia mencibir. Ternyata dia masih marah.
Tia dan Rin memang beda satu tahun. Tapi, mereka berada pada angkatan yang sama., karena Rin masuk sekolahnya barengan dengan Tia. Kata orang tuanya, biar nggak ribet.
Tia sih senang-senang saja, punya adik pintar siapa yang nggak senang? Udah satu angkatan, satu kelas pula! Tapi, ada juga yang bikin bête. Rin terlalu populer. Rin terlalu cakep. Rin terlalu tampan. Dan itu semua bikin cewek-cewek kepincut sama dia.
Sayangnya, gara-gara Rin, Tia yang jadi sasaran para cewek penggemar Rin. Sebab, sampai hari ini dia nggak pernah punya pacar. Padahal banyak yang udah menyatakan cinta, terus karena tidak tahu alasan kenapa ditolak, mereka, maksudnya cewek-penggemar-Rin, langsung meneror kakaknya yang hanya bisa angkat bahu alias sama tidak tahunya.
“ Woi, lo melamun ya? Cepet turun, udah sampe sekolah nih,”
Tia berjengit kaget,” Aduh, gue kaget tau!” Tia memukul pelan kepala Rin lalu turun dari motornya sambil melepas helm.
“ Untung nggak telat, kalo sampe telat gue nggak akan nganter lo pulang,” ancam Rin yang tentu saja nggak akan terjadi.
“ Alhamdulillah,” Tia mengelus dadanya lega. Dia bisa mengerjakan PRnya sekarang. Biasa, pelajaran jam pertama itu menguras otak. Apalagi itu PR. Dan PR itu pelajaran Fisika. Dan karena volume otaknya beda dengan volume otaknya Rin, maka dia harus menyontek. Hehe…
Tapi, niat itu segera diurungkan Tia. Ada keramaian yang tidak biasanya. Banyak anak yang berdesak-desakan di sana, memusat lebih tepatnya. Entah untuk apa. Kalo sekadar bagi-bagi beras rasanya tidak mungkin. Kalo bagi-bagi THR? Mm…apa iya?
“ Rin, ada yang bagi-bagi THR ya?” tanya Tia sambil menyejajari langkah besar Rin.
“ Hah? Maksud lo?”
Tia menunjuk dengan dagunya. Rin melihat arah yang ditunjuk Rin. Dia juga sama herannya, mengapa ada keramaian di lapangan sepak bola?
“ Entahlah, gue nggak peduli,” Rin mengangkat bahu.
Tia mencibir. Dia emang cuek, tapi apa nggak penasaran ama yang di sana?
“ Ng…gue ke sana deh, siapa tahu ada THR gratis,” kata Tia berjalan menuju keramaian. Rin ingin melarangnya karena harus mengerjakan PR. Tapi, tidak jadi. Biar sajalah, itung-itung lihat pemandangan di depan kelas nanti. Rin tertawa pelan membayangkannya.
“ OI! Ada apaan nih? Rame bener!” ucap Tia pada salah satu teman sekelasnya, Ajeng, yang ternyata ada di situ juga.
“ Aaah! Lo bakalan kaget ngeliat anak baru itu.”
“Anak baru? Siapa?”
“Pokoknya dia keren banget. Dan gue mungkin udah jatuh cinta pada pandangan yang pertama,” jelas Ajeng hingga histeris.
Tia jadi ingin muntah. Apa benar? Jatuh cinta pada pandangan pertama? Dia jadi penasaran bagaimana rupa wajah orang itu sehingga bisa menarik perhatian para gadis di sekolah ini.
Tia ikut berdesakan. Untung tubuhnya kecil, kalo tidak pasti dia tidak akan sampai di barisan depan. Tepat di tengahnya, berdiri orang yang tinggi, yang sepertinya dialah pusat semua perhatian itu. Dia seprtinya merasa risih dengan keadaan di sekitarnya. Tia mengamatinya, dan begitu melihat wajah orang itu yang ternyata cowok, Tia langsung membelalakkan matanya.
MARIO MAURER !!!
Dia Mario! Mario Maurer! Astaga!
“ Namanya Anggra Mario Rendra.” Kata salah satu cewek di samping Tia. Tia sendiri mengernyit heran,” Panggilannya Mario,”
Hah? Tunggu-tunggu! Bukankah dia Mario Maurer? Kenapa bisa jadi Anggra Mario Rendra? Aneh sekali!
Tia mengamati sekali lagi dengan teliti cowok yang di sebut Mario itu. Kalo dilihat sekilas ia memang seperti Mario Maurer, namun setelah diamati benar-benar, dia bukan Mario Maurer melainkan kloningannya Mario. Ya ampun! Bahkan nama panggilannya pun persis.
“ Ada apa ini? Cepat masuk kelas, ini udah bel!” teriak salah satu guru yang berada di belakang kerumunan. Bu Rani, guru BP. Semuanya langsung cepat-cepat membubarkan diri, termasuk Tia, takut dengan salah satu guru killer itu.
Tia berhenti berlari, ia menepuk dahinya,” Mati gue! PR Fisikanya?!”
Tia masuk kelasnya, XI IPA 1, lalu mencari meja Rin. Di sana Rin sedang tertawa-tawa dengan Gio, teman sebangkunya. Tia dengan tatapan terbengisnya menatap Rin yang terbengong melihatnya.
“ Kenapa lo?” tanyanya.
“ Kok lo nggak peringati gue sih?!” teriak Tia membuat semua anak di kelasnya melihat mereka.
“ Peringati tentang apa?”
“ PR fisika!” ujar Tia keras, agak dongkol.
“ Salah lo sendiri,” kata Rin cuek. Lalu berbalik dan melanjutkan candaanya dengan Gio yang menatap Tia kasihan.
Tia mengumpat keras,“ Huh! Dasar! Liat aja lo ntar, sampe rumah gue bun…”
“ TIA! Ngapain kamu di situ?!” ucapan Tia terpotong oleh teriakan seorang guru di belakang yang Tia tau siapa beliau. Tia berbalik, dan menemukan wajah Bu Runi yang menggeram.
Tia langsung pasang tampang senyum manis,” Nggak ngapa-ngapain, Bu,”
“ Cepat duduk!” Bu Runi tampak tak terpengaruh dengan senyum itu. Tia menghela napas pelan, setidaknya dia tidak dimarahi.
Oh, tunggu dulu!
“ Mati gue! PRnya?” umpat Tia pada diri sendiri. Ia lalu menatap Bu Runi yang sekarang sudah memerintahkan anak-anak untuk mengumpulkan PR. Tia tahu, setelah ini ia tidak akan bisa bernapas lagi.
(~^-^~)
Chapter 3 : Setelah hukuman=tidur (nyeyak!)
“ Uh, uh. Badan gue remuk semua,” keluh Tia. Dia menyandarkan kepalanya di atas meja. Ema-sahabat sekaligus teman sebangkunya-melihat Tia kasihan.
Sejak bel pertama sampai istirahat ini, Tia disuruh berdiri di depan kelas. Tidak hanya berdiri saja, ia juga mengangkat satu kakinya dan memegang telinga dengan kedua tangannya. Ada juga yang ketawa-ketiwi melihat tingkah Tia.
“ Lo juga sih, kenapa bisa dua pelajaran nggak lo kerjain semua PRnya?” Ema geleng-geleng kepala.
Tia cemberut,” Kok lo gitu sih? Nggak kasihan sama temen lo ini?”
“ Nggak,” jawab Ema pendek.
“ Jahat bener lo jadi temen. Jadi kayak Rin, deh.” Tia bangkit dan berjalan keluar.
“ Mau ke mana lo?” tanya Ema keras. Tapi, Tia tidak menyahut. Ema berpikir pasti Tia marah padanya. Ia tidak seharusnya bicara kejam seperti itu. Ia harus segera meminta maaf,” Tia! Tunggu gue,” Ema berlari keluar kelas, tapi tidak menemukan Tia dan ia sudah melototkan matanya untuk mencari gadis berambut lurus yang diikat ekor kuda. Nihil. Padahal setahunya, Tia tidak akan berjalan secepat itu. Ema jadi merinding sendiri memikirkannya.
Tia menggembungkan pipinya, kebiasaan di saat sedang nggak semangat. Badannya masih terasa nyeri. Berdiri selama dua setengah jam membuat kaki Tia sakit. Ditambah ejekan-ejekan yang keluar dari mulut teman-temannya.
Tia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia hanya menuruti kakinya melangkah. Tia sampai di belakang sekolah. Lalu menemukan sebuah bangku biru yang panjang. Ia ingin istirahat di sana sebentar. Tia menyandarkan kepalanya di bangku itu. lalu memejamkan matanya. Menghirup angin yang berhembus pelan. Bau bunga di sekitarnya seakan merontokkan kelelahan Tia. Tidak terasa Tia tertidur di situ.
Tia tidak tahu ada seseorang berdiri di sampingnya. Orang itu melambaikan tangannya di depan wajah Tia. Melihat tidak ada respon, orang itu tersenyum geli,” Dasar! Tidur waktu pelajaran udah dimulai.” Orang itu duduk di samping Tia. Melihat wajah tidurnya, orang itu tersenyum lagi,” Siapa nama lo? Boleh gue panggil putri tidur?” ia tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya seolah ia gila.
Tia membuka matanya yang terasa berat. Kemudian menguap dan meregangkan badannya. Ia mengucek matanya yang agak kabur. Lalu kaget mendapati ia tidur di bangku panjang ini.
“ Astaga! Jam berapa ini?! AAAAA…Tuhan! Kenapa kau membiarkanku tidur di sini?!” Tia langsung berlari cepat menjauhi taman belakang sekolah. Ia terus-terusan mengumpat sepanjang perjalanan ke kelasnya.
Di luar kelasnya, Tia mengetuk pintu sambil berusaha tak terlihat habis berlari. Dan tanpa komando, semua anak termasuk salah satu guru, namanya Bu Via-guru sejarah, melirik ke arah Tia yang segera merasa bersalah. Ia akan menerima segala hukuman dari Bu Via.
Bu Via bingung mendapati Tia berdiri di luar kelas,” Tia, kenapa ke sini? Memangnya kamu udah sembuh?” tanyanya lembut sambil mendekati Tia.
Ini nih yang harusnya dijadiin guru! Guru yang baik! Eh? Tapi, apa maksud Bu Via tadi? Batin Tia.
“ Emm…maksudnya apa tadi, Bu?” tanya Tia lambat-lambat.
“ Bukankah kamu sakit? Kata Ema tadi, kamu sakit jadi nggak bisa ngikutin pelajaran ibu,” jelas Bu Via.
OOOHH!
“ Eh, iya, Bu,” Tia melirik Ema sekilas,” Tadi saya memang sakit, tapi sekarang kayaknya udah lebih mendingan, kok.” Bohong Tia. Maaf, bu, batinnya.
Bu Via mengangguk mengerti,” Baiklah kalo begitu. Kamu boleh mengikuti pelajaran ibu, namun jika merasa sakit kamu harus kembali ke UKS, ya?”
Tia mengangguk. Setelah diijinkan untuk duduk, Tia mengucapkan banyak terima kasih pada Ema yang telah menolongnya, yang disambut anggukan kecil,” Sama-sama. Gue jadi bo’ong deh sama Bu Via. Emang tadi lo kemana sih?” bisik Ema.
“ Taman belakang, tadi gue ketiduran,” balas Tia yang juga berbisik.
Ema menatap Tia tak percaya,” Serius lo? Kok bisa ya?”
“ Kelelahan kali.”
Ema mengangguk maklum. Biasanya setelah Tia kelelahan dia emang bisa tidur nyenyak entah di manapun tempat itu berada. Di kelas pernah, sampe di marahi guru-guru yang saat itu mengajar, di bus juga pernah dan hampir kecopetan kalo nggak ada orang yang menolongnya, dan masih banyak tempat yang lain yang bisa dijadiin bukti.
Yah, begitulah sifat Tia. Hati Mutiara Cinta Sapphire.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar